Oleh : Handa Elfairuz
Berikut macam-macam akidah syiah :
- Aqidah Bada'
Bada' artinya
tampak atau munculnya pendapat baru.
Bada'
dengan arti diatas berkait erat dengan didahuluinya ketidaktahuan diatas dan
munculnya pengetahuan baru, kedua sifat tersebut mustahil bagi Allah, akan
tetapi Rofidhoh menidsbatkan sifat Bada' ini kepada Allah.
Ar
Royan bin As Sholt berkata: "Saya pernah mendengar Ar Ridho berkata:
"Allah tidak mengutus Nabi kecuali diperintahkan untuk mengharamnkan
Khomer, dan diperintahkan untuk menetapkan sifat bada' kepada Allah.
Abu
Abdillah berkata: "Seorang belum dianggap beriabadah kepada Allah
sedikitpun, sehingga mengakuai sifat bada' kepada Allah.
Mereka menisbatkan siafat itu kepada Allah,
padahal Dia yang maha suci dari yang mereka sifatkan berfirman: قل لايعلم من في السموات و الأرض الغيب إلا الله
"Katakanlah:"tiadak
ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib kecuali
Allah." (Qs. An Naml : 65)
Di
balik itu mereka berkeyakinan dan beranggapan bahwa para imam mereka mengetahui
seluruh pengetahuan dan tidak ada yang samar baginya.
B .Aqidah mereka
tentang sfat-sifat Allah.
Rofidhoh
adalah yang pertama kali megatakan bahwa Allah berjism (bertubuh seperti
makhluk).
Syaikhul
Islam berkata: "Bahwa yang mepelopori tuduhan ini dari sekte rafidhoh
adalah Hisyam bin Al Hakam , Hisyam bin Salim Al Juwailiqi, Yunus bin
Abdurroman Al Qummy, dan Abu ja'far Al Ahwal. Merka ini adalah para tokoh
Syi'ah Itsna 'Asy'ariyah, yang pada akhirnya m,eareka menjadi sekte Jahmiyah
yang meniadakan sifat bagi Allah.
Ibnu
Babawaih telah meriwayatkan lebih dari 70 riwayat yang menyatakan, "bahwa
Allah tidak di sifati ndengan waktu, tempat, tingkah, gerak, pindah, tidak
disifati dengan sifat-sifat yang ada isi, tidak berupa materi, jisem dan
bentuk."
Sebagaimana
juga mereka mengingkari turunnya Allah ke langit bumi, ditambah lagi perkataan
meeka tentang Al Qur'an bahwa ia adalah makhluq, disamping itu mereka juga
mengingkari akan melihat Allah Swt di akherat nanti.
Disebutkan
dalam buku Biharul Anwar bahwasannya Abu Abdillah Ja'far Asah Shodiq pernah di
tanya, apakah Allah bisa dilihat di hari kiamat? Maka ia menjawab: "Maha
suci Allah dan maha tinggi setinggi-tingginya, sesungguhnya mata tidak bisa
melihat kecuali kepada benda yang memiliki warna dan berkondisi tertentu,
sedangkan Allah Dzat yang menciptakan warna dan yang menentukan kondisi.
Bahkan
orang-orang syi'ah mengatakan; "Jika ada seseorang yang menisbatkan kepada
Allah, bahwa sebagian sifat Allah dapat dilihat, maka seseorang tadi di hukumi
murtad, sebagaimana yang disinyalir oleh tokoh mereka Ja'far An Najfi dalam
buku Kasyful Githa hal: 417
Pernyatan
diatas semuanya bertentangan dengan nash-nash yang ada dqalam Al Qur'an dan As
Sunnah yaitu:
وجوه
يومئذ ناضرة (1) إلى ريهم ناضرة (2)
"Wajah-wajah
(orang-orang beriman) pada hari itu berseri-ser. Kepada tuhanlah mereka
melihat."(Qs. Al Qiyamah: 22-23)
Kemudian
dalil dari As Sunnah, yaitu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan
Muslim dari Jarir bin Abdulloh Al Bajali ra, beliau berkata:
كنا
جلوسا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فنظر إلى القمر ليلة أربع عشرة فقال : إنكم
سترون ربكم عيانا كما ترون هذا, لا تضامون في رؤيته.
"Kami tidak pernah duduk
bersama Nabi Muhammad Saw kemudian beliau melihat bulan purnama pada malam 14,
maka beliau bersabda: "Kalian akan melihat Robb kalian dengan mata kepala,
sebagaimana kalian melihat bulan ini dan tidak bersusah-susah dalam melihat
Nya."
Dan masih banyak lagi nash-nash yang
berkenaan dengan itu, baik dari Al Qur'an maupun As Sunnah.
C. Aqidah
Rofidhoh tentang Al Qur'an yang dijaga keorsinalannya oleh Allah.
Rofidhoh
yang lebih akrab disebut dengan syi'ahmengatakan: "Al qur'an Alkarim yang
ada pada kita sekarang ini,ia bukan Al qur'an yang diturunkan Allah kepada Nabi
Muhammad, ia telah mengalami perubahan, pergantian, penambahan dan pengurangan.
Muhammad
bin Ya'qub Al kulaini berkata dalam bukunya Ushulul Kaafi pada bab
"mengumpulkan dan membukukan Al Qur'an hanya lah para imam:
"Diriwayatkan dari jabir, ia berkata,"Siapa yang mengaku telah
mengmpulkan AlQur'an dan membukukan seluruh isinya sebagaimana yang diturunkan
Allah, maka ia seorang pendusta, tidak ada yang mengumpulkan dan yang
menghafalkannya, sebagaimana yang diturunan olehNya, melainkan Ali Bin Tholib
dan para imam setelahnya."
Syaikh
Sayid Muhibudin Al Khotib berkata dalam risalahnya "Al Khuthuth Al
'Aridhoh" beliau menyebutkan bahwa orang-orang Syi'ah tidak yakin dengan
AlQur'an yang sekarang ditangan kita telah terjadi perubahan,penghapusan dan
kekurangan.
Kulani dan Qummi
mendakwakan adanya ayat-ayat dan kalimat yang dihapuskan dalam Al Qur'an yang
ditangan kita sekarang ini. Beberapa contoh ayat-ayatnya sebagai berikut:
1. Al kulaini
oleh Kualini, Kitabul Hujjah: 1/414 cetakan Iran:
ومن
يطع الله و رسوله ( في ولاية علي و الأئمة بعده فقد فاز فوزا عظيما )
2. Al Kafi Al Hujjah:
1/422:
سأل
سائل بعذاب واقع , للكافرين ( بولاية علي ) ليس له دافع
3. Al Kafi Al Hujjah:
1/417:
وإن
كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا ( في ولاية علي
)
4. Tafsir Al Qummi:
2/125:
وسيعلم
الذين ظلموا ( ال محمد ) أي منقلب ينقلبون
5. Al Kafi Al Hujjah:
1/424:
ولو
أنهم فعلوا ما يو عظون به ( في علي
)
6. Tafsir Nuruts
Tsaqolain: 1/654:
يا
أيها النبي بلغ ما أنزل إليك من ربك (في علي ), وإن لم تفعل فما بلغت رساته.
Bahkan
mereka juga mempunyai satu surat yang mereka yakini sebagai salah satu surat
dari surat-surat di dalam Al Qur'an, yang bernama "Al Wilayah" jumlah
ayatnya kurang lebih 43 ayat, kesemua ayat itu hanyalah potongan-potongan
ayat-ayat Al Qur'an. Bisa dilihat dalam kitab "Menyingkap Aqidah
syi'ah" Syaikh Abdulloh bin Muhammad, hal: 74-81.
Mereka
juga berkeyakinan bahwa ayat-ayat yang turun kepada Nabi, berjumlah 17.000
ayat, sedangkan Al Qur'an yang ada pada kita hanya berjumlah 6000 ayat lebih,
pernyataan ini disebutkan oleh Al kulaini
dalam kitabnya Al Kafi.
D.Aqidah mereka
tentang para Sahabat Nabi
Aqidah
mereka berpijak pada pencacian, pencelaan, dan pengkafiran terhadap para
sahabat.
Diriwayatkan
dari Ja'far :"Semua sahabat sepeninggal Rosululloh murtad kecuali
tiga", kemudian saya bertanya kepadanya: "Siapakah ketiga sahabat ini
?" Ia menjawab: "Al miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan salman
Al Farisi."
Al
Majlisi menyebutkan, "Bahwa Ali Bin Al Husain berkata kepada sahayanya:
"bagiku atas kamu hak pelayananm ceriratakan kepadaku tentang Abiu Bakar
dan Umar? Maka ia menjawab: "Merka berdua adalah kafir, dan orang yang
cinta kepadanya termasuk kafir juga."
Dalam tasir Al
Qummy surat An Nahl: 90 ditafsirkan dengan:
وينهى
عن الفحشاء والمنكر و البغي
Mereka
menafsirkan "Al Fahsya'" dengan Abu Bakar dan "Al Munkar"
dengan Umar dan "Al Baghyi" dengan Ustman. Mereka orang orang syi'ah
mengatakan dalam kitab "Miftahul jinan": "Ya Allah, berikanlah
sholawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sholawa, dan la'natilah kedua
patung Quraisy, kedua jibt (tukang sihir) dan thogutnya serta kedua anak
perempuannya (maksudnya: Abu Bakar, umar, Aisyah dan Hafshoh).
Setiap
10 Muharom, mereka membawa anjing lalu diberi nama Umar, lalu mereka semua
memukulinya dengan tongkat dan melemparinya dengan batu sampai mati. Kemudian
mereka juga mendatangkan kambing betina, yang dinamai dengan Aisyah, lalu
mereka mencabuti buku-bulunya dan memukulinya dengan sepatu sampai mati.
Mereka juga
merayakan kematian Umar ra (tanda senang dengan kematiannya). Dan memberi
penghargaan kepada orang yang berhasil membunuh beliau, dengan gelar
"Pahlawan Agama".
E.Aqidah tantang
Imam mereka.
Imam
Ja'far Ash Shodiq berkata: "Kami adalah gudang Ilmunya Allah dan kami
penterjemah perintah Allah dan kami adlah orang yang ma'sum, diwajibkan taat,
dan dilarang menyelisihi kami, dan kami menjadi saksi atas perbuatan manusia
dilangita dan di bumi.
Al
khumaimi yang celaka berkata dalam salah satu tulisannya: "Bahwa para imam
mereka lebih utama dari pada para Rosul dan Nabi, mereka juga memiliki
kedudukan yang tidk tercapai oleh para malaikat dan rosul.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Rofidhoh menyangka bahwasannya urusan agama
kepada para pendeta, halal dan haram hanyalah yang menuru mereka dan konsep
keagamaan adalah yang mereka syareatkan.
FAqidah Rofidhoh
tentang Roj'ah
Menurut
mereka Roj'ah yaitu kembali hidup setelah mati sebellum hari kiyamat.
Al mufid
berkata: "Syi'ah Imamiyah sepakat keharusan hidupnya kembali sejumlah
orang yang sudah mati..
Syi'ah
Imamiyah bukanlah yang pertama kali berkata bahwa, "Kembalinya imam
setelah wafatnya, namun kebanyakan kelompok Syi'ah menyatakan bahwa sebagian
imam mereka akan kembali setelah wafatnya. Disamping itu Syi'ah Imamiyah
mempunyai aqidah ain tentang Roj'ah, yaitu roj'ahnya Nabi Saw dan ahlul baitnya
sebelum tiba hari kiyamat. Begitu pula roj'ahnya musuh-musuh mereka.
Roj'ah yang akan
dialamai oleh akhir imam Syi'ah yang
disebut dengan "Al Qoim" (inilah yang mereka juluki sebagai Al Mahdi)
diakhir zaman, ia keluar dari sirdap (tempat persembunyian) dan akan
menyembelih semua lawan politiknya dan akan mengembalikan kepada orang-orang
syi'ah hak-hak mereka yang tela dirampas oleh kelompok-kelompok sepanjang abad.
Al
Majlisi mengatakan dalam bukunya Haqqul Yakin mengutip perkataan Muhammad Al
Baqir: "Jika Al Mahdi muncul, ia akan menhidupkan Aisyah Ummul Mu'minin
untuk dihukum.
G.Aqidah
Rofidhoh tentang Taqiyah.
Definisi
Taqiyah menurut tokoh mereka adalah: "Suatu ucapan dan perbuatan yang anda
lakukan tidak sesuai dengan keyakinan, untuk menghindari bahaya yang mengancam
jiwa anda, harta, atau untuk menjaga kehormatan anda.
Mereka
beranggapan bahwa Rosulullloh Saw pernah melakukannya, yaitu ketika seorang
tokoh munafiq, Abdulloh bin Ubai bin Salul meninggal dunia, dimana dia datang
untuk mensholatinya, maka Umar bin Khothob berkata kepadanya: "Tidakkah
Allah telah melarangmu untuk melakukan hal itu (berdiri diatas kuburan orang
muhafiq ini), maka Rosululloh menjawab: "Celakalah engkau, tidakkah aku
tahu apa yang aku baca?, sesungguhnya
aku mengucapkan: "Ya Allah, isilah mulutnya dengan api dan masukkan
kedalam api."
Dinukil
Al Kulaini dari Abu Abdillah, "Jagalah agama kalian, tutupilah dengan
Taqiyah, tidak dianggap beriman sesorang sebelum ia bertaqiyah."
Tokoh
Syi'ah Al Qummi dalam kitabnya Al I'tiqod, mengatakan sebagi berikut:
"Taqiyah itu wajib tidak boleh dihilangkan sampai Al Qoim (Imam yang
ghoib) muncul. Barang siapa meninggalkannya sebelum kemunculan Al Qoim, ia
telah murtad dari agama Allah dan agama syia'h imamiyah, dan ia telah menyalahi
Allah, RosulNya dan para Imam
H.Aqidah
Rofidhoh tentang Ath Thinah.
Ath
Thinah adalah tanah kuburan Husain ra.Dinukil oleh Muhammad An Nu'man Al Harisi
yang dijuluki dengan Asy Syaikh Al Mufid salah seorang pembawa paham
kesesesatan dalam bukunya Al Mazar dari Abu Abdillah ia berkata: "Tanah
kuburan Al Husain adalah obat untuk segala penyakit, ia adalah obat yang paling
agung."
Abdulloh
berkata: "Usaplah langit-langit mulut anakmu dengan debu kuburan Al
Husain,"
Diriwayatkan
ada seseorang bertanya: "As Shodiq tentang faedah penggunaan tanah kuburan
Al Husain, maka Ash Shodiq menjelaskan kepadanya: "Jika makan tanah
kuburan ini bacalah!: "Ya Allah, saya memohon kepadamu dengan perantaraan
malaikat yang telah menggenggamnya dan memohon kepadamu dengan peranaraan Nabi
yang telah menyimpannya, dan dengan perantaraan Washi (Ali ra) yang telah
bersemayam di dalamnya, agar Engkau berikan sholawat kepada Muhammad dan
keluarganya, serta jadikanlah tanah ini sebagai obat untuk segala penyakit, dan
keselamatan dari segala ketakutan dan penjagaan dari segala keburukan."
Abu
Abdillah juga pernah ditanya tentang kasiat tanah tersebut, lalu ia jawab:
"Biji tasbih yang terbuat dari tanah kuburan Al Husain dapat bertasbih
meskipun orang itu tidak bertasbih."
Orang
Rofidhoh mengaku bahwa orang Syiah diciptakan dari tanah khusus dan orang sunni
dari tanah yang lain, kemudian kedua tanah tersebut di campur dengan cara
tertentu, sehinga ketika ada dalam diri orang syi'ah kema'siatan dan tidakan
kriminalitas dikarenakan terpengaruh dengan tanah asal di ciptakan orang sunni.
Dan apabila terdapat dalam diri orang sunni di cap baik dan amanah, maka karena
bahan ciptaan orang syi'ah.
I.Aqidah
Rofidhoh tentang Ahlus Sunnah.
Ash
Shoduq meriwayatkan suatu riwayat yang disandarkan kepada Daud bin Farqod dalam
bukunya Al Illal bahwa beliau berkata: "Saya bertanya kepada Abu Abdillah,
apa pendapat anda tentang An Nasib? Ia menjawab: "Halal darahnya, tapi
saya menghawatirkan keselamatan anda, maka jika anda mampu menggulingkan tembok
sehingga merobohi orang Ahlus Sunnah, atau menenggelamkannya dilautan, sehingga
tak ada yang menyaksikan atas perbuatanmu maka lakukanlah, kemudian saya
bertanya lagi, "Bagaimana pendapat anda tentang hartanya? Ia menjawab:
"Ambillah! jika anda bisa."
Bahkan
dari mereka ada yang mengatakan bahwa kekufuran orang –orang Ahlus Sunnah lebih
besar dari kekufuran orang-orang yahudi dan Nasroni, dikarenakan mereka
menganggap Ahlus Sunnah murtad, sedangkan orang murtad lebih besar kekufurannya
di bandingkan orang –orang kafir asli.
Dari
situlah, mengapa mereka lebih mau membantu orang-orang yahudi dan nasroni dari
pada dari pada kaum muslimin dalam
peperangan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiayah:
"Orang-orang rofidhoh telah membantu Tatar, ketika memerangi negara-negara
islam."
Kesesetan
mereka juga juga bisa dilihat dari jawaban Abu Ja'far saat ditanya oleh Al
Fudhail bin Yasar tentang boleh dan
tidaknya mengawinkan wanita rofidhoh dengan Ahlus Sunnah? Ia menjawab:
"Tidak, karena laki-laki Ahlu Sunnah itu kafir."
Pernyataan
mereka itu sangat bertentang sekali dengan sabda Rosululloh Saw diriwayatkan
dari Ibnu Umar ra:
كنا
نخير بين الناس في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم فنخير أبا بكر ثم عمر ثم
عثمان ( رواه البخاري)
"Kami pernah memilih manusia
terbaik (selain Rosululloh, maka kami memilih Abu Bakar lalu Umar lalu Ustman.
(HR. Bukhori)
Ibnu Asakir:
"Kami mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali."
J.Aqidah mereka
tentang nikah mut'ah dan keutamaannya
Mut'ah
memiliki keistemaan yang besar didalam Aqidah mereka. Dikatakan dikatakan dalam
buku Minhajus Shodiqin yang ditulis oleh Fathulloh Al Kasyani, dari Ash Shodiq,
bahwasannya nikah mut'ah adalah bagin dari agamaku dan agama nenek moyangku,
dan barangsiapa yang mengingkarinya berarti ia telah mengingkari agama kami,
bahkan bisa dianggap beragama dengan agama selain agama kami. Dan anak yang
dilahirkan dari hasil perkawinan mut'ah lebih utama dari pada anak yang
dilahirkan melalui nikah yang tetap, dan orang yang meangingkari nikah mut'ah,
ia telah kafir dan murtad.
Abdillah
bin Sinan dai Abi Abdillah ia berkata: "Sesungguhnnya Allah Swt
mengharamkan atas orang-orang syi'ah segala minuman yang memabukkan dan
menggatikannya dengan Mut'ah."
Adapun
jumlah wanita yang dimut'ah oleh mereka tidak terbatas. Sebagaimana pernyataan
salah sau ulama' mereka. Dari Muhammad bin Abu Ja'far, ia berpendapat tentang
mut'ah, bahwa ia tidak hanya terbatas empat wanita, karena mereka tak perlu
dicerai, tidak mewarisi, hanya saja mereka itu adalah dikontrak.
Syaikh
Abdullah Jibrin berkata: "Orang-orang Rofidhoh mengahalalkan nikah
berdalil dengan firman Allah Swt: "Dan (diharamkan juga kamu mengkawini)
wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah
menetapkan hukum itu sebagai ketetapanNya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu
selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini
bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang kamu nikmati (campuri) diantara
mereka, berrikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu
kewajiban, dan tidalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah
saling melakukannya, sesudah menentukan mahar." (Qs. An Nisa' :24)
Namun
maksud dalil yang mereka pakai bukanlah nikah mut'ah tetapi itu adalah nikah
yang sebenarnya, yaitu dimulai dari ayat ke-19 sampai ayat diatas.
Kemudian
dijelaskan pula didalam sebuah hadits dari Arrobi bin Subrah bin Al Juhaini.
Sesungguhnya bapaknya menceritakan kepadanya, bahwa ia pernah bersama
Rosululloh Saw beliau bersabda:
يا
أيها الناس إني كنت أذنت لكم في الإستمتاع من النساء وأن الله قد حرم ذلك إلى يوم
القيامة, فمن كان عنده منهم فليخل سبيله ولا تأخذوا مما أتيموهن شيئا (رواه مسلم)
"Wahai
manusia, sesungguhnya saya pernah membolehkan bagi kalian nikah mut'ah
(bersenang-senang dengan wanita). Ketahuilah, bahwa Allah telah mengharamkannya
sampai hari kiyamat, maka barang siapa masih memilikinya, hendaknya dilepaskan
dan jangan kalian ambil sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan."
(HR. Muslim, no.1406)
Tidak
sampai disitu, mereka juga memperbolehkan mendatangi istrinya lewat duburnya.
Dari
Ali bin Al Hakam, ia berkata: "Saya pernah mendengar Shofwan berkata:
"Saya berkata, "Saya berkata kepada Ar Ridho,"Seorang lelaki
dari mantan budakmu meminta saya untuk bertanya kepadamu tentang suatu masalah
yang mana ia malu menanyakan langsung kepadamu,"maka ia berkata: "Apa
masalah itu? "Ia menjawab, "Bolehkah seorang lelaki menyetebuhi
istrinya di duburnya? Maka ia menjawab, "Ya boleh baginya."
K.Aqidah mereka
tetang kota Najf dan Karbala serta keutamaan menziarahinya.
Mereka
meriwayatkan dari Ja'far Ash Shodiq bahwa Allah memiliki tanah haram yaitu
Makkah, Rosululloh juga memiliki tanah haram yaitu Madinah Munawaroh, begitu
juga Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib memiliki tanah haram yaitu kufah, dan
kami memiliki tanah haram yaitu Qum.
Mereka
juga menganggap bahwa tanah karbala lebih utama dari pada ka'bah. Didalam salah
satu riwayat mereka, dari Abu Abdillah, ia berkata: "Sesungguhnya Allah
menurunkan wahyunya kepada ka'bah dengan mengatakan, "jika bukan karena
imam yang bersemayam ditanah Karbala, Aku tidak akan menciptakanmu, dan Aku
tidak akan menciptakan masjid yang engkau banggakan, diamlah kamu jangan
bertingkah, jadilah tumpukan dosa, hina dina, yang dihinakan dan jangan sombong
kepada tanah Karbala, jika tidak, aku akan hempaskan kau ke neraka jahannam.
l.Aqidah mereka
terhadap hari As Syuro dan keutmaannya menurut mereka.
Pada
10 hari pertama dai bulan Muharom setiap tahun mereka mengadakan upacara
kesedihan dan ratapan (berkabung), saat itu mereka melakukan demonstrasi
dilapangan-lapangan umum, dengan memakai pakaian serba hitam, sebagai lambang
kesedihan mereka, ini mereka lakukan untuk mengenang gugurnya Al Husain ra,
dengan berkeyakinan bahwa ini merupakan sarana pendekatan kepada Allah yang
paling agung. Mereka juga memukul –mukul pipi merek dengan tangan, memukul dada
dan punggung, menyobek-nyobek saku, menangis berteriyak histeris dengan
menyebut: "Ya Husain!, Ya Husain!!!"
Lebih-lebih
pada tanggal 10 Muharom, mereka memukuli diri sendiri dengan cemeti dan pedang,
sebagimana yang terjadi dinegara yang dikuasai oleh Rofidhoh seperti Iran.
Tatkala
salah seorang gembong dari mereka ditanya tentang itu, maka ia jawab:
"Bahwa itu semua merupakan syi'ar ajaran Allah, sebagaimana tersebut dalam
firmanNya:
ومن
يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب ( الحج : 32
)
"Demikianlah
(perintah Allah), dan barang siapa yang mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka
seseungguhnya itu timbul dari keyakinan hati." (Qs. Al Hajj : 32)
M.Aqidah mereka
tentang Bai'at
Rofidhoh
beranggapan bahwa seluruh pemerintahan, selain pemerintahan imam mereka yang
jumlahnya 12, dianggap tidak syah dan batal.
Dari
Abu Ja'far, ia berkata: "Setiap bendera .yang dikibarkan sebelum bendera
imam mereka Al Qoim Al Mahdi pemiliknya dianggap thoghut.
ALmajlisi
memberikan komentar kepada tiga kholifah Abu Bakr, Umar dan Utsman, "Bahwa
mereka adalah para perampok kekuasaan, penghianat, dan murtad dari agamanya.
Semoga Allah laknat kepada mereka, dan kepada orang-orang yang mengikutinya,
dikarnakan kedholiman yang diakukannya kepada keluarga Nabi Dari generasi
pertama dan sesudahnya."
Mungkin
ini yang bisa saya coba paparkan dalam akidah sesat syiah. jika ada kata yang
kurang baik dalam makalah ini, saya mohon ma’af sebesar-besarnya. Syukron.
Referensi :
- Dirosatul Firaq, Tim Ulin Nuha Ma’had Aly An-Nur.







0 komentar:
Posting Komentar